Lompat ke isi
KomodoTokenDirektori saham ritel, farmasi & kebun

Department store atau toko spesialis: dua cara mengisi lantai penjualan

Berjalanlah di lantai satu sebuah mal. Di satu sisi ada gedung toko besar dengan eskalator sendiri, tempat baju anak, panci, dan parfum dijual di bawah satu atap. Di sisi lain berjajar gerai sempit yang hanya menjual sepatu lari, atau hanya satu merek busana. Keduanya sama-sama “toko baju”, tetapi cara mereka mencari untung sangat berbeda.

Ruang rapat panjang dengan kursi hijau tua dan jendela kaca menghadap gedung tinggi
Keputusan tentang luas lantai, jumlah kategori, dan pemasok diambil di ruang rapat jauh sebelum barang sampai di rak.

Dua filosofi menata lantai

Department store menjual keluasan. Ia ingin satu kunjungan keluarga menghasilkan banyak kantong belanja: ayah membeli kemeja, ibu memilih kosmetik, anak mendapat sepatu sekolah. Luas lantainya besar, kategorinya banyak, dan setiap kategori biasanya hanya menampilkan pilihan secukupnya. Di Indonesia, contoh emiten yang menjalankan model ini adalah Matahari Department Store (LPPF) dan Ramayana (RALS).

Toko spesialis menjual kedalaman. Gerai olahraga menyediakan belasan jenis sepatu lari dalam banyak ukuran; gerai satu merek menampilkan seluruh koleksi musim itu. Ukuran gerainya lebih kecil, tetapi jumlahnya bisa banyak dan tersebar. Peritel seperti Mitra Adiperkasa (MAPI) menjalankan banyak toko spesialis sekaligus di bawah nama merek yang berbeda-beda, walau grup yang sama juga punya department store.

Perbandingan sekilas

AspekDepartment storeToko spesialis
Ukuran geraiBesar, sering menjadi penyewa jangkar malKecil sampai sedang
Jumlah kategoriBanyak, dangkal per kategoriSedikit, dalam per kategori
Daya tawar sewaCenderung kuat karena menarik pengunjungLebih lemah, tergantung lokasi
Risiko stokBisa dibagi dengan pemasok lewat titipanLebih sering ditanggung sendiri
Identitas bagi pembeliNama tokoNama merek

Menghitung hasil per meter persegi

Salah satu cara membandingkan kedua model adalah melihat penjualan per meter persegi lantai. Angka berikut rekaan, hanya untuk memperlihatkan logika hitungannya.

Pos (setahun)Gerai A: department storeGerai B: toko spesialis
Luas lantai6.000 m²300 m²
PenjualanRp90 miliarRp9 miliar
Penjualan per m²Rp15 jutaRp30 juta
Sewa per m²Rp1,5 jutaRp4,5 juta
Sewa sebagai porsi penjualan10%15%

Gerai B menghasilkan dua kali lipat per meter persegi, tetapi juga membayar sewa tiga kali lipat per meter persegi karena menempati lokasi di koridor yang ramai. Hasilnya, porsi sewa terhadap penjualan justru lebih berat. Department store sering mendapat tarif lebih rendah karena kehadirannya dianggap menarik pengunjung ke seluruh mal.

Dalam laporan emiten, angka sewa per meter persegi jarang dipublikasikan langsung. Namun Anda bisa memperkirakan beban sewa dari catatan tentang aset hak guna dan liabilitas sewa, lalu membandingkannya dengan penjualan dari tahun ke tahun.

Siapa yang menanggung baju yang tidak laku?

Perbedaan terbesar sering tersembunyi di gudang. Department store bisa menerima barang titipan: pemasok menaruh barang di lantai toko, dan toko hanya mencatat komisi saat barang terjual. Toko spesialis yang menjalankan merek tertentu biasanya membeli barangnya lebih dulu, sehingga risiko sisa stok ada di tangannya sendiri. Rincian kedua skema ini kami bahas terpisah di panduan konsinyasi vs beli putus.

Akibatnya, dua peritel dengan penjualan kotor yang sama bisa melaporkan pendapatan yang sangat berbeda, tergantung porsi barang titipan di lantainya. Membandingkan margin kotor keduanya secara mentah bisa menyesatkan.

Arus pengunjung dan musim

Department store kelas menengah sangat bergantung pada musim belanja besar, terutama menjelang hari raya. Pembeli datang untuk satu momen, lalu kunjungannya surut. Toko spesialis olahraga atau kosmetik bisa punya pola yang lebih merata karena pembelinya datang mengikuti kebutuhan rutin atau peluncuran produk baru. Namun toko spesialis lebih rentan bila satu kategori tiba-tiba kehilangan peminat.

Daftar cek saat membaca laporan emiten ritel mode

  1. Cari penjelasan model usaha: berapa banyak gerai berformat toko besar dan berapa yang berformat toko merek.
  2. Periksa kebijakan pengakuan pendapatan: apakah ada penjualan konsinyasi yang dicatat sebesar komisi.
  3. Bandingkan pertumbuhan penjualan dari toko lama dengan pertumbuhan total; panduan SSSG menjelaskan caranya.
  4. Lihat perubahan persediaan terhadap penjualan: persediaan yang tumbuh jauh lebih cepat bisa menandakan barang menumpuk.
  5. Catat liabilitas sewa dan jangka waktunya; kontrak panjang mengunci biaya meski lalu lintas pengunjung turun.
  6. Perhatikan kuartal mana yang memuat hari raya sebelum membandingkan antartahun.

Model campuran di dalam satu grup

Garis pemisah antara kedua model makin kabur. Sebuah grup bisa memiliki department store di satu mal dan belasan gerai merek di mal sebelahnya. Bagi pembaca laporan, konsekuensinya sederhana: angka konsolidasi mencampur dua pola margin, dua pola sewa, dan dua pola musim. Bila emiten menyajikan segmen operasi, pisahkan dulu keduanya sebelum menilai tren. Bila tidak ada rincian segmen, gunakan paparan publik atau materi presentasi kuartalan, yang sering memuat komposisi penjualan per format toko. Tanpa pemisahan itu, kenaikan margin grup bisa saja hanya berarti porsi toko merek sedang membesar, bukan bahwa setiap toko menjadi lebih efisien.

Artikel ini membahas konsep, bukan menilai emiten mana yang lebih baik. Tidak ada bagian yang dimaksudkan sebagai saran membeli atau menjual saham.

Tanya jawab

Apa beda utama department store dan toko spesialis?

Department store menjual banyak kategori dalam satu gedung untuk menarik keluarga yang belanja sekaligus, sedangkan toko spesialis fokus pada satu kategori atau satu merek dengan pilihan yang lebih dalam.

Mana yang lebih menguntungkan?

Tidak ada jawaban tunggal. Keuntungan bergantung pada margin kotor, biaya sewa per meter persegi, dan kecepatan barang terjual. Bandingkan angka-angka itu antartahun untuk emiten yang sama.