Lompat ke isi
KomodoTokenDirektori saham ritel, farmasi & kebun

Konsinyasi vs beli putus: siapa yang menanggung kemeja yang tak laku

Dua kemeja tergantung berdampingan di rak sebuah department store. Harganya sama, labelnya sama-sama bertuliskan diskon akhir musim. Namun yang satu sudah dibayar lunas oleh toko ke pemasoknya, sementara yang lain masih milik pemasok dan hanya dititipkan. Pembeli tidak melihat bedanya. Pemegang saham seharusnya melihat.

Kotak ungu terbuka dengan koin emas berhamburan, gambaran barang titipan dan uang hasil penjualan
Barang di rak bisa milik toko, bisa juga milik pemasok yang menitipkan; laporan keuangan mencatat keduanya dengan cara berbeda.

Dua skema dalam satu kalimat

Hitungan satu kemeja

Kita pakai angka rekaan. Kemeja dijual ke pembeli seharga Rp200.000.

PosBeli putusKonsinyasi (komisi 30%)
Uang yang dibayar pembeli di kasirRp200.000Rp200.000
Yang dicatat toko sebagai pendapatanRp200.000Rp60.000
Beban pokok penjualanRp120.000Rp0
Laba kotorRp80.000Rp60.000
Margin kotor terhadap pendapatan40%100%
Uang toko yang tertanam di stokRp120.000Rp0

Beli putus menghasilkan laba kotor lebih besar per kemeja, tetapi toko harus mengeluarkan Rp120.000 di muka. Konsinyasi menghasilkan laba kotor lebih kecil, tanpa modal kerja untuk stok. Perhatikan juga margin kotor 100% pada kolom konsinyasi: angka itu tampak luar biasa, padahal hanya akibat cara pencatatan. Inilah alasan margin dua peritel tidak bisa dibandingkan mentah-mentah.

Ketika kemeja tidak laku

Sekarang misalkan dari 100 kemeja, hanya 70 yang terjual di harga penuh. Sisanya 30 harus dicuci gudang.

Pada beli putus, toko punya dua pilihan: menjual 30 kemeja itu dengan potongan besar atau menyimpannya. Jika dilepas di Rp100.000, setiap kemeja rugi Rp20.000 dibanding harga beli, atau total Rp600.000 dari kelompok kemeja itu. Laba dari 70 kemeja yang laku (70 × Rp80.000 = Rp5,6 juta) terpangkas menjadi Rp5 juta.

Pada konsinyasi, 30 kemeja dikembalikan ke pemasok. Toko kehilangan peluang komisi, tetapi tidak menanggung rugi atas barangnya. Komisi dari 70 kemeja tetap 70 × Rp60.000 = Rp4,2 juta.

Di tahun yang ramai, beli putus unggul. Di tahun yang sepi, konsinyasi melindungi toko. Banyak department store memadukan keduanya untuk menyeimbangkan dua hal itu.

Bagaimana terlihat di laporan keuangan

Standar akuntansi tentang pendapatan dari kontrak dengan pelanggan membedakan pihak yang bertindak sebagai prinsipal dan sebagai agen. Toko yang menjual barang titipan umumnya dianggap agen, sehingga yang dicatat sebagai pendapatan hanya komisinya. Konsekuensinya:

Bila emiten memakai kedua skema, catatan atas laporan keuangan biasanya menjelaskan kebijakan pengakuan pendapatannya. Bagian itu layak dibaca lebih dulu sebelum menghitung rasio apa pun.

Daftar cek untuk pembaca laporan

  1. Temukan kebijakan pengakuan pendapatan: apakah ada penjualan konsinyasi yang dicatat neto.
  2. Bandingkan penjualan kotor dan pendapatan bersih bila keduanya diungkapkan; perubahan jaraknya menandakan pergeseran skema.
  3. Hitung perputaran persediaan hanya terhadap beban pokok barang beli putus.
  4. Periksa cadangan penurunan nilai persediaan; kenaikan tajam bisa berarti banyak stok lama.
  5. Bandingkan margin kotor hanya dengan periode lain dari emiten yang sama, bukan dengan emiten lain yang campuran skemanya berbeda.

Untuk konteks model toko yang biasanya memakai titipan, baca juga department store vs toko spesialis. Emiten department store di denah kami ada di unit LPPF dan unit RALS.

Tawar-menawar di balik komisi

Besaran komisi konsinyasi tidak tetap. Pemasok merek yang laris punya posisi tawar kuat dan bisa meminta komisi lebih rendah atau lokasi rak yang lebih strategis. Pemasok kecil yang butuh etalase biasanya menerima komisi lebih tinggi. Selain komisi, perjanjian titip jual sering mengatur siapa yang menanggung potongan harga saat obral, siapa yang menggaji pramuniaga di area merek tersebut, dan berapa lama barang boleh dipajang sebelum ditarik. Semua itu memengaruhi laba toko, walau tidak selalu terlihat jelas di laporan. Petunjuknya bisa dicari di bagian analisis manajemen, terutama ketika perusahaan menjelaskan mengapa margin berubah dari tahun sebelumnya.

Semua angka di artikel ini rekaan untuk menjelaskan konsep. Artikel tidak menilai kebijakan emiten tertentu dan bukan ajakan bertransaksi saham.

Tanya jawab

Apa itu konsinyasi di department store?

Konsinyasi adalah skema titip jual: pemasok menaruh barangnya di lantai toko, kepemilikan tetap di pemasok sampai barang terjual, dan toko memperoleh komisi dari setiap penjualan.

Apa itu beli putus?

Beli putus berarti toko membeli barang dari pemasok lebih dulu. Barang menjadi persediaan milik toko, sehingga untung dari selisih harga dan risiko barang tidak laku ditanggung toko.

Mengapa pendapatan konsinyasi terlihat kecil di laporan?

Karena dalam skema titipan, peritel biasanya bertindak sebagai agen dan hanya mencatat komisinya sebagai pendapatan, bukan seluruh harga barang yang dibayar pembeli.