SSSG: memisahkan toko lama dari toko baru dalam angka pertumbuhan
Sebuah peritel mengumumkan penjualannya naik 12% dibanding tahun lalu. Kedengarannya bagus. Tetapi bagaimana kalau hampir seluruh kenaikan itu datang dari toko yang baru dibuka, sementara toko-toko lama justru makin sepi? Untuk menjawab pertanyaan itulah analis ritel memakai SSSG.

Definisi sederhana
SSSG (same-store sales growth) mengukur perubahan penjualan dari toko yang sudah buka sepanjang periode pembanding dan periode sekarang. Toko yang baru dibuka dikeluarkan dari hitungan sampai ia punya riwayat penuh, biasanya dua belas bulan. Toko yang ditutup juga dikeluarkan. Dengan begitu, yang tersisa adalah kelompok toko yang bisa dibandingkan secara adil.
Contoh hitungan dengan angka rekaan
Bayangkan jaringan fiktif bernama Toko Lentera dengan data setahun berikut:
| Kelompok toko | Tahun lalu | Tahun ini |
|---|---|---|
| 40 toko lama (buka di kedua tahun) | Rp400 miliar | Rp392 miliar |
| 8 toko baru (buka tahun ini) | — | Rp56 miliar |
| 2 toko tutup (hanya buka tahun lalu) | Rp8 miliar | — |
| Total | Rp408 miliar | Rp448 miliar |
Pertumbuhan total: (448 − 408) ÷ 408 ≈ 9,8%. SSSG: (392 − 400) ÷ 400 = −2,0%. Laporan yang hanya menyebut angka total terlihat sehat, padahal toko-toko lamanya menyusut. Selisih antara 9,8% dan −2,0% sepenuhnya disumbang ekspansi.
Kondisi seperti ini tidak selalu buruk. Toko lama bisa menurun karena sebagian pembelinya pindah ke toko baru di dekatnya. Namun bila pola itu terus berulang, pertumbuhan perusahaan hanya bisa dipertahankan dengan terus membuka toko, yang memerlukan modal.
Membongkar SSSG: transaksi dan nilai belanja
SSSG bisa dipecah menjadi dua komponen: jumlah transaksi (seberapa sering kasir berbunyi) dan rata-rata nilai belanja per transaksi. Hubungannya kira-kira:
(1 + SSSG) = (1 + pertumbuhan jumlah transaksi) × (1 + pertumbuhan nilai belanja per transaksi)
Misalkan jumlah transaksi di toko lama turun 6%, sedangkan nilai belanja per transaksi naik 4%. Maka 0,94 × 1,04 = 0,9776, atau SSSG sekitar −2,2%. Nilai belanja yang naik bisa berasal dari kenaikan harga barang, bukan dari pembeli yang membeli lebih banyak barang. Jadi SSSG positif di masa inflasi tinggi belum tentu berarti toko makin ramai.
Lima jebakan saat membaca SSSG
- Pergeseran hari raya. Bila Lebaran jatuh di kuartal pertama tahun ini tetapi di kuartal kedua tahun lalu, SSSG kuartalan akan melonjak lalu anjlok tanpa ada perubahan nyata. Lihat panduan Lebaran dan kalender penjualan.
- Definisi yang berbeda. Ada perusahaan yang memasukkan toko hasil renovasi besar, ada yang mengeluarkannya. Ada yang memasukkan penjualan daring, ada yang tidak.
- Penjualan kotor vs pendapatan. Department store yang memakai barang titipan kadang melaporkan SSSG berdasarkan penjualan kotor di kasir, bukan pendapatan di laporan laba rugi.
- Basis rendah. SSSG tinggi setelah tahun yang sangat buruk sering hanya pemulihan ke level lama.
- Tidak diaudit. SSSG umumnya disampaikan di materi presentasi, bukan di laporan keuangan yang diaudit, sehingga cocokkan arahnya dengan angka penjualan resmi.
Di mana mencari angkanya
Emiten ritel biasanya menaruh SSSG di materi paparan publik, presentasi kinerja kuartalan, atau bagian analisis dan pembahasan manajemen di laporan tahunan. Beberapa emiten di denah kami, seperti LPPF, RALS, dan MPPA, memiliki halaman hubungan investor yang memuat materi presentasi. Bila angka SSSG tidak tersedia, Anda bisa membuat perkiraan kasar sendiri dari penjualan dan jumlah gerai rata-rata, dengan catatan bahwa hasilnya jauh kurang presisi.
Daftar cek sebelum menyimpulkan
- Apakah periode pembandingnya memuat hari raya yang sama?
- Apakah SSSG dihitung dari penjualan kotor atau pendapatan bersih?
- Berapa kontribusi kenaikan harga dibanding kenaikan jumlah transaksi?
- Apakah perusahaan baru menutup banyak toko yang lemah, sehingga kelompok toko lama tersisa yang kuat saja?
- Apakah arah SSSG sejalan dengan arah penjualan di laporan keuangan resmi?
SSSG dan toko daring
Banyak peritel kini menjual lewat aplikasi atau lokapasar sambil tetap membuka gerai. Pembeli bisa memesan dari rumah lalu mengambil barang di toko, atau sebaliknya melihat barang di toko lalu membayar lewat ponsel. Bila penjualan daring dikeluarkan dari SSSG, toko lama bisa tampak melemah padahal pembelinya hanya berpindah kanal. Bila dimasukkan, perlu jelas ke toko mana setiap pesanan daring dialokasikan. Karena itu, dua emiten yang sama-sama melaporkan SSSG 5% belum tentu mengukur hal yang sama. Kalimat definisi di catatan kaki presentasi adalah bagian yang paling sering dilewati, padahal justru paling menentukan.
SSSG adalah satu lensa, bukan vonis. Artikel ini memakai angka rekaan dan tidak menilai emiten mana pun layak dibeli atau dijual.
Tanya jawab
Apa kepanjangan SSSG?
SSSG adalah same-store sales growth, yaitu pertumbuhan penjualan dari toko yang sudah beroperasi di kedua periode yang dibandingkan. Sebagian perusahaan memakai istilah like-for-like atau pertumbuhan toko yang sama.
Apakah SSSG wajib dilaporkan emiten?
Tidak selalu. SSSG adalah ukuran yang lazim disampaikan peritel di paparan publik atau materi presentasi, dan definisinya bisa berbeda antarperusahaan. Baca catatan definisinya sebelum membandingkan dua emiten.
SSSG negatif berarti perusahaan merugi?
Belum tentu. SSSG negatif berarti toko lama menjual lebih sedikit dibanding periode pembanding. Laba juga bergantung pada margin, biaya, dan kinerja toko baru.